Kulawarga Al Barra

Just another WordPress site

Ramadan Hari Pertama

Posted by Lia on August 13th, 2010

Alhamdulillah Ramadan kembali kami jelang, kita jelang. Di Lexington hari pertama Ramadan bertepatan dengan tanggal 13 Agustus 2010 M, sama halnya dengan di Indonesia bukan? bedanya kami disini memiliki hari yang lebih panjang sekitar 15 jam lebih , pun merupakan hari pertama sekolah anak-anak.  Tapi Insha Alloh, Alloh  akan memudahkan dan menguatkan kami untuk menjalani syaum tahun ini.

Hari pertama, Fajr dimulai jam 5.12 am dan maghrib jam 8.36 PM.  Untuk sahur, saya bangunkan Raka dan Hanif mereka semangat dengan tersenyum pergi ke kamar mandi, mencuci muka, kemudian dengan khusus mereka saya suapi  sahurnya sambil bercerita tentang hari yang akan dijelang dan do’a yang harus kita panjatkan untuk memohon kekuatan kepadaNYA.

“Ya Alloh, I intend to fast today, because of you, because I want to do ibadah. Please make it easy for us, Ameen”, Raka dan Hanif berdo’a diakhir makan sahurnya.

Jam 7.30 mereka bersiap untuk berangkat sekolah. Raka yang tahun ini memutuskan untuk pindah sekolah karena Ia diterima di Gifted&Talented Program Class yang hanya ada dibeberapa sekolah, pergi lebih pagi karena school bus-nya ada di Glendover, sekolahnya dulu. Sedangkan Hanif tetap di Glendover dan busnya di depan rumah. Hari pertama sekolah dan hari pertama syaum, Insha Alloh sehat dan kuat.

Pulang sekolah, dengan keringat bercucuran mereka masuk rumah, ramai bercerita tentang harinya.

“Do you guys want to break your fast now?” saya menawarkan, karena lelah terlihat jelas di wajah mereka.

“not now” jawab mereka serempak

Keduanya kembali bermain. Setelah sholat dzuhur, Raka mulai merengek-rengek. Lapar, haus, lelah dan sebagainya tapi Ia tak mau berbuka saat itu. Ayahnya mencoba mengalihkan perhatian Raka dengan mengerjakan PR, nonton, cerita, main game. Sedangkan Hanif masih anteng, tidak rewel, pun tidak ingin berbuka.  Sewaktu saya di dapur, terlihat Hanif sedang menikmati sepotong donat ” Ai are you eating?”, “Hah I forget” jawabnya antara kaget dan sayang donatnya belum habis :D . “simpan donat-nya dan teruskan puasanya. Thats your rijki, Alloh give reward to the boy who is not rewel” hehe.

Ketika saatnya tiba, Ayah Adzan, senyum terkembang diwajah-wajah lelah kami, Alhamdulillah…kami berempat buka puasa dengan sajian yang walopun biasa-biasa saja tapi sangat nikmat terasa.

” Nak, terasa bukan betapa nikmatnya berbuka puasa setelah seharian puasa?”

Mereka tersenyum meng-iyakan.  Lalu Hanif berkata “this gonna be great Ramadan”. Ya Alloh mudahkanlah mereka menjalani jalan indahMU ini, tuntunlah mereka, jadikan mereka orang-orang terpilih yang menjadikan Engkau sebagai satu-satunya tujuan.

Add a comment

Target oh Target

Posted by Lia on July 19th, 2010

Jauh sebelum liburan summer tiba, saya sudah membuat rencana dan target. Bahkan beberapa kegiatan yang bisa dimulai sejak sebelum summerpun saya pending, supaya kegiatan summer penuh dan fun (bukan ide bagus menunda-nunda “pekerjaan”). Target untuk anak-anak

1. Menambah hapalan  beberapa surat Al Qur’an

2. Ngaji 10-15 menit a day

3. More outdoor activities, playground, main tanah, main air

4. Islamic studies

5. Do more science project

6. More reading

7. Math

Mereka libur mulai 4 Juni sampai 10 Agustus, hampir 10 mgg.

Seminggu pertama, dihabiskan dengan bermain, minggu kedua dan ketiga traveling ke berbagai tempat sekalian mudik ke Amherst. Minggu keempat semua kecapaian dan “jetlag”, minggu kelima, keenam, ketujuh tak ada kegiatan berarti. Mereka main games, tv, playground kadang2. Sampai hari Jum’at lalu, sewaktu khutbah Jum’at khatib mengingkatkan tentang power of anak muda berkaitan dengan pendidikan keislaman mereka, memupuk keimanan, berkegiatan yang bermanfaat untuk umat dsb, dikaitkan dengan liburan summer yang sisa 3 minggu lagi. Saya tersentak, astagfirullah kemana saja saya ini, ngapain saja. Anak-anak dibiarkan tumbuh sendiri, hidup sendiri dalam dunia mereka. Baiklah punya 3 mgg.

Hari ini senin, hari pertama mulai dijalankan target2 summernya. Pagi-pagi setelah mereka sarapan, belajar dengan materi pilihannya. Raka dengan senang hati memulai islamic quiz, lalu reading comprehension dan math. Sementara sang adik, memilih Islamic quiz, math dan math itupun tak bisa ditinggal, ibunya kudu berada disampingnya, menemaninya bahkan menyuapi cemilannya :D . Sampai jam 12 siang masih berjalan lancar, sampai sang bungsu bangun, setelah itu dengan bebas merdeka dia mendominasi ibunya,  sesekali mengganggu kakak2nya. Bagaimana dengan keluarga yang homeschooling ya ? saya yang cuma sekedarnya sudah ribet mengatur anak-anak. Usai semua pekerjaannya, setelah dicek. Raka did great, untuk semua bidang, sedangkan Ai untuk Islamic quiznya mengkhawatirkan, banyak sekali yang ia lupa dan salah duh duh kembali teguran buat ibunya nih.

Setelah dzuhur tiba, kami sholat berjamaah lalu ngaji bersama, giliran membaca perayat dan artinya sampai beberapa ayat kami selesaikan. Kemudian saya cek hapalan surat mereka. Kembali tamparan, mereka banyak lupa surat-surat yang sebelumnya mereka hapal dengan baik. Astagfirullah…baiklah. Bismillah mari kita mulai lagi ! giat lagi dan semoga konsisten.

Sekarang, jam 3.18 PM. Anak-anak sedang main toys.  Setelah sebelumnya menggunakan 30 menit waktu main computer gamesnya.

Untuk ibunya ; jangan lengah ya Bu, sabar dan konsisten !

Untuk Ayahnya; ke kampus tiap hari ya, biar ibu tak terganggu menjalankan program ini :D , eh yang penting lagi biar target Ayahpun tercapai ok ! *kiceup-kiceup*

Add a comment

Di 3 Tahunnya Ilman

Posted by admin on July 17th, 2010

Tidak terasa, tanggal 14 Juli kemarin Ilman genap berusia 3 tahun (atau ganjil ya? ).

Mugya Ilman dijantenkeun jalmi anu soleh, bageur, pinter sareng sabar.

Add a comment

Pileuleuyan …

Posted by admin on July 15th, 2010

Kemarin warga lexington kehilangan salah satu anggotanya. Pak Agus Hudoyo, Bu Indah bersama dua dari empat anaknya, Sammy dan Danu pulang ke Indonesia “for good”. Sedangkan kedua anaknya yang paling besar, Satrio dan Puni tetap tinggal di Lexington untuk melanjutkan kuliah mereka.

Keluarga Pak Agus

Keluarga Agus Hudoyo

Selomat Jalan , semoga ilmu yang didapat di Lexington menjadi ilmu yang bermanfaat di Indonesia. Pileuleuyan … paturay patepang deui.

(click untuk meperbesar foto, pilih halaman foto berikutnya untuk melihat foto-foto lainnya)

Add a comment

Reviving the Zombie

Posted by Barra on July 10th, 2010

Selama kami sekeluarga tinggal di Amherst, Lia rajin menuliskan tentang pengalaman hidup sehari-hari. Sejak akhir 2007 dan seiring pudarnya kepopuleran “nge-blog” yang sekarang digantikan oleh microblog (twitter, facebook, etc) berakhir pula tulisan-tulisan Lia.

Beberapa minggu yang lalu kami mengunjungi Amherst dan teringat suka duka yang telah alami di sana. Membaca ulang kembali tulisan di blog Lia saya berinisiatif untuk kembali menuangkan pengalaman keluarga dalam blog yang kelak akan menjadi memori dan mungkin pelajaran yang berharga bagi kami sekeluarga.

Beruntung beberapa tahun yang lalu saya sempat mengimpor isi dari blog lia di blogspot (kulawarga.blogspot.com) ke wordpress blog. Hari ini saya berhasil menghimpun sebagian besar tulisan Lia di blog yang lama tersebut. Mudah-mudahan kami punya waktu untuk kembali menuliskan pengalaman kami sehari-hari ke dalam blog ini :) .

Jam menunjukkan pukul 2:46 dinihari. Saya masih berkutat dengan blog di dampingi Ilman yang masih berkicau merdu yang sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda  segera masuk ke peraduan.

Add a comment

Kembali Bermula

Posted by Lia on December 28th, 2008

Benarkah tiba di 1430 H karena 1414 H baru saja ditulis kemarin rasanya.

Benarkah 16 tahun berlalu sudah, ingat setiap lembar buku itu berjejer dua angka 14.

Benarkah kini adalah kini, beribu hari berlalu setelah masa itu padahal impian yang terajut masih belumlah terurai panjang.

Dimana jiwa berada

Dimanakah gegas yang kucipta

Saatnya kembali semula, dalam sujud panjang harapan dan do’a

Hari ini jalan berawal dititik 1430 H

Mari….

*Lexington, 1 Muharram 1430 H

1 comment

Aku Mencintaimu Tanpa Tapi

Posted by Lia on December 22nd, 2008

Akuilah bahwa kau mencintainya!
Iya sih, tapi dia suka memaksakan kehendak, dia suka mengatur, dia ingin aku begini dan begitu, aku lelah, cape entah…

Ah jangan kotori cintamu dengan uraian kalimat setelah tapi itu. Karena diapun mencintaimu tanpa tapi. Tak dibiarkannya tangis jatuh dari kelopak matamu, rasa sakitmu derita panjangnya, tertawamu bahagia yang tak berkesudahan untuknya. Harapnya adalah jiwamu untuk melangkah dan meniti. Inginnya adalah semangatmu untuk berjalan dan

Ah....betapa aku akan mencintainya, dengan segala kediaannya. Aku mencintainya karena dia aku ada, karena begini dan begitunya dia adalah hirupan lega nafasku kini. Aku mencintainya karena dia adalah jiwa yang mengalir deras dalam aliran hidupku, aku mencintainya karena dia adalah raga yang mengkokohkan derap langkahku. Ya, aku mencintainya.
Katakanlah padanya, segera!

"Ibu, aku mencintaimu tanpa tapi"

Untukmu, untukku dan untuk mereka, Selamat Hari Ibu!

Add a comment

"Bayi"

Posted by Lia on December 19th, 2008

Kemarin sambil menggendong si bungsu yang sedang tidak sehat, saya coba nonton Film Juno, mungkin sudah pada nonton ya, ini kan Film tahun lalu. Film ini berkisah tentang seorang anak remaja putri (Juno, 16thn) yang hamil. Awalnya Juno berniat menggugurkan kandungannya, tapi kemudian dia refused niatnya tersebut dan akhirnya mempertahankan bayinya dengan niat setelah bayinya lahir akan diberikan kepada orang tua yang sangat menginginkan anak tapi belum diberi kesempatan memilikinya, kata lain cari pasangan yang mau mengadopsi.

Anyway, saya tidak akan menceritakan film itu, saya hanya teringat tentang kebebasan sex anak remaja di sini (amrik maksudnya).

Saya pernah tinggal selama 2,5 thn di Massachusetts, negara bagian “paling sekuler” kalau kata orang-orang. Yang membolehkan pernikahan gay dan melegalkan aborsi. Saya tinggal di salah satu kota kecil, Amherst. Kota yang hampir setengah bagian penduduknya adalah mahasiswa.

Di Amherst ini ada sebuah SMA, salah seorang counseling disekolah ini kebutulan teman saya. Beliau seringkali bercerita tentang siswanya, anak-anak yang memiliki “segala” kebebasan termasuk sex. Bahkan ada yang disebut “predator”, sang kakak (laki-laki) yang mengadakan pesta dan menjadikan adik perempuannya sebagai “suguhan” terhadap teman-temannya, mengerikan. Mungkin mereka juga tidak khawatir akan kehamilan toh akhirnya bisa diaborsi, naudzubillah hi mindzalik. Siswa juga mendapatkan pendidikan sex lengkap dari a-z, proses dan akibat.

Lalu teman saya berkisah, bahwa sekolah menyediakan sebuah boneka bayi yang mirip dengan bayi manusia, yang akan menangis ketika lapar, pipis dsb. Anak-anak SMA tersebut akan mendapat giliran untuk membawa bayi ini kemana-mana, ke sekolah, di rumah diurus dll. Tujuannya biar siswa tahu dan mengerti betapa besar tanggung jawab mengurus bayi itu, dan tentu saja cape dan lelah sedangkan bayi butuh perhatian kapan saja dan dimana saja. Diharapkan siswa itu berfikir dulu sebelum melakukan sex bebas, karena akan mengakibatkan kehamilan dan bayi itu harus diurus seperti si boneka tadi (lo tapi kan kalaupun hamil masih boleh diaborsi, naudzubillah hi mindzalik). Hasilnya bagaimana saya tidak tahu lagi, belum ngobrol lagi dengan teman tersebut.

Sekarang saya tinggal di Kentucky, state yang “tenang”. Disini pernikahan gay tidak boleh, aborsi juga tidak legal, Gereja banyak, layaknya Masjid di Indonesia, kegiatan keagamaan marak. Tapi sex bebas mah tetep, anak remajanya juga.

Disini saya tidak punya teman counseling tapi punya teman yang memiliki anak SMA. Sewaktu kelas 2 SMA, dia dan teman-temannya diberi tugas membuat “bayi”. Bayi ini terbuat dari 5lbs tepung terigu (bentuknya kotak), yang bibuatkannya kaki, tangan, dipakaikan baju dsb. Si “bayi” ini juga dibawa kemana-mana, tapi kan tidak “hidup” seperti bayi di SMA Amherst sana, jadi bisa hanya dibiarkan saja di tasnya. Tujuannya mungkin yang sama.

Mereka kreatif menciptakan ide untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak remaja salah satu akibat hubungan sex. Tapi hasilnya seperti apa, entahlah. Padahal menurut saya solusinya itu agama, agama dan agama. Islam tepatnya.

Dan ternyata juga kehidupan sex bebas para remaja ini bukan hanya terjadi di Amerika, di Indonesia juga sudah “biasa” sepertinya, tersembunyi ataupun terungkap, duh.

Ini ada link bagus yang cukup berkaitan dengan cerita saya diatas. Tulisan ibu Elly Risman di Republika dan Tanya Jawab konsultasi parenting dengan teman-teman di Belanda

http://liasaja.multiply.com/links/item/3

http://liasaja.multiply.com/links/item/4

Add a comment

Parenting 101 (Second Session) by John Rosemond

Posted by Lia on December 18th, 2008

Yang ini lebih sering mengangguk-angguknya daripada mengernyitkan dahi :D . So??? please write your opinion, lets share!

This is Part 2 and the conclusion of Parenting 101, an overview of the fundamentals of effective parenting. Last week’s class dealt with such basics as having a more active relationship with your spouse than you have with your children, saying “No” more than “Yes,” and the much overlooked fact that the discipline of a child is accomplished through the conveyance of proper leadership, not reward-ship or punishment-ship. Having built a strong foundation, we will now move into a set of specifics that are equally essential to raising a child who will be well-equipped to deal successfully with the realities of independence. After all, the purpose of raising a child is to get him or her out of your life and into a life of his/her own.

1.) Put yourself at the center of your child’s attention, not the other way around. It is a simple matter to discipline a child who is paying attention to you and nigh-unto impossible to discipline a child who is not. In that regard, always keep in mind that the more attention you pay a child, the less attention the child will pay to you.

2.) Put your child into a meaningful role in your family, one that is defined in terms of responsibilities known as chores (remember them?). By the time your child is 4 years old, he should be contributing significant time and effort on a daily basis to the maintenance of the household. Your child’s chores should not be assigned haphazardly, but should be established as a routine. In addition to picking up after himself and keeping his own living space clean and orderly, he should be working in “common areas” of the home, doing such things as dusting and vacuuming. You do tell people that your child is gifted, do you not? Without chores, a child is a mere consumer, on a perpetual entitlement program, and entitlements do not strengthen people or culture. Grow a strong child!

3.) Keep television and other electronic media out of your child’s life until your child has learned to read well and is self-entertaining. The research is clear that electronic media shortens attention span, interferes with the development of certain critical thinking skills, and develops a dependency that leads to frequent complaints of boredom. Remember that an average of just two hours of “screen time” a day means your child is absorbing electronic stimulation to the tune of 730 hours a year. That’s the equivalent of eighteen 40-hour work weeks! Think of the creativity that’s being lost! Grow a child with a strong brain!

4.) From day one, keep clutter out of your child’s life by keeping toys and other “stuff” at a minimum. Paradoxically, children who entertain themselves well (low-maintenance children) tend to have few toys. These children are also more grateful for and take better care of what they have. Grow an imaginative, creative child!

5.) Emphasize manners, not skills. Sixty years ago, most children came to overcrowded first grades not knowing their ABCs, yet at the end of the year were reading at a higher level than today’s kids, most of whom are already reading in kindergarten. That happened because parents of sixty years ago taught proper behavior, not skills; therefore, teachers taught skills, not proper behavior. Grow a polite child!

6.) Love your child enough to do the first ten. Grow a happy child!

Family psychologist John Rosemond answers parents’ questions on his website at www.rosemond.com.

Copyright 2008, John K. Rosemond

*About the Author: Rosemond has written nine best-selling parenting books and is one of America’s busiest and most popular speakers, known for his sound advice, humor and easy, relaxed, engaging style. In the past few years, John has appeared on numerous national television programs including 20/20, Good Morning America, The View, Bill Maher’s Politically Incorrect, Public Eye, The Today Show, CNN, and CBS Later Today.

Add a comment

Parenting 101 by John Rosemond

Posted by Lia on December 18th, 2008

Ini saya copas dari washingtontimes.com. Ada dua sesi course dan ini yang pertama. Awalnya saya terheran-heran dengan beberapa pendapat beliau ini, tapi sisi lain juga mengangguk-angguk. Silahkan baca sendiri, dan bagaimana pendapat anda?

Welcome to Parenting 101, a two-part introduction to the fundamentals of effective child rearing. You will have acquired what it takes to raise children who are mannerly, self-disciplined and do their best in school.

As you will see, the fundamentals in question do not include various clever means of manipulating reward and punishment. If to this point, parenting has not been a relatively simple, easy-going affair, your problem is your attitude and your point of view, in which case, you signed up for the right course.

• If you are married with children, put your marriage first. Your relationship with your spouse should be considerably more active than your relationship with your children. You should pay more attention to your spouse, talk more to your spouse, do more for your spouse, and spend more time with your spouse than you pay, talk, do and spend with your kids.

There is, after all, nothing that more effectively secures a child’s sense of well-being than knowing his parents are taking care of their relationship.

• If you are single with children, have lots of interests outside of your interest in your children. Have hobbies, friends, activities and a job that take your attention away from your kids. In so doing, you will become interesting to them. They will have greater respect for you, and they will pay you more attention. Whether married or single, be the center of your children’s universe as opposed to letting them be the center of yours.

• By the time your children are 3 years old, you should build a boundary between yourself and them, one that limits their access to you. Let them know you are not at their beck and call, that you have a life beyond being their mother or father, and insist they respect your privacy.

• Say “no” more than you say “yes.” Actually, the proportion should be at least five to one. The only children who can’t take “no” for an answer have parents who do not say it often enough and cannot say it with conviction.

• Put the horse of leadership in front of the cart of relationship. The secret to effective discipline is not manipulating consequences cleverly; rather, it is assuming a posture of loving leadership in their lives.

Leadership is a simple matter of acting like you know what you’re doing, know where you’re going, know what you want and know you are going to get it. That translates to a calm, confident, casual parenting style.

Add a comment